Jumat, 15 April 2016

PENGUMUMAN! 10 BESAR LOMBA MENULIS PUISI, CERPEN & ARTIKEL



10 Besar Lomba Menulis Puisi:
1. Naura Ardianasari – Kembalikan Indonesia (Tanpa) Korupsi
2. Nurul Lidia Kristiana – Kisah Pencuri Waktu
3. Diyah Ayu Noviya Sani – Raksasa Negeri
4. Rahmawati – Elang Hitam
5. Cindy Selfiana – Tikus Buncit Berdasi Dusta
6. Intan Sulistyanigrum – Sepercik Mimpi Harapan
7. Ratna Alifia Wuryandari – Surat Untuk Bapak Pemimpin Negeri
8. Raissa Rofifah Hanun – Terkoyak
9. Wiyanti – Ingatkah?
10. Aristya Pendriyani – Kemana Lari akan Bertanya?

10 Besar Lomba Menulis Cerpen:
1. Rizma Ajeng Aprilia – Negeri yang Sempurna Bukanlah di Bumi Tempatnya
2. Rizky Bhirawani Merdikawati – Tuan
3. Laili Husnul Hidayah – Misteri Museum Setan
4. Mayziyadah – Sisi Lain
5. Idula Rias Larasati – Perjalanan Noktah Menjadi Mutiara
6. Zumroh El Firdaus M. – Bunga Mawar
7. Lorient Meyse Hidayah – Disedekahi Cinta
8. Ruhil Anandiah Sabrina – Kisah Bunga para Pujangga
9. Ulfi Rohmawati – Kunci Emas Kehidupan
10. Wiyarti – Sempurna Itu Sederhana

10 Besar Lomba Menulis Artikel:
1. Reenu Mustakim – Anti Corruption Treatment (ACT)
2. Dyah Ayu Nur S. – CINTA (Cara Inspiratif Tangani Narkoba)
3. Nurul Lidia Kristiana – Memberantas perilaku seks bebas dikalangan remaja dengan metode “Filosofi” dan “Tanah”
4. Imroatus Sholikah – Drof D-Game (Drugs Of Danger Game) sebagai sarana edukasi bahaya narkoba untuk anak usia 7-12 tahun
5. Bagus Mahardika – Ilmu Sosiologi sebagai Filtrasi budaya remaja melalui pendekatan intelektual bangsa dengan sistem tata surya
6. Eka Anis Rahayuningsih – Mengukir seberkas cahaya hati remaja melalui apresiasi sastra Indonesia
7. Ayu Larasati – SONIC (Student Organization To Create The Honesty Culture) sebagai upaya mencegah lahirnya budaya korupsi
8. Aprilia Novitasari – Waspada! Predator Cinta Merajalela
9. Riya Tanjung Ekasari – Pemanfaatan Media Sosial untuk pendidikan antikorupsi pada generasi muda sebagai upaya pencegahan kasus tindak pidana korupsi di Indonesia
10. Widya Kartikasari W. – Menganalisa budaya selfie di kalangan remaja dari sudut pandang kesehatan dan agama.

            Kami ucapkan selamat untuk yang karyanya masuk 10 besar. Bagi yang masuk 10 besar, silakan datang ke kampus STKIP PGRI Ponorogo besok hari Minggu, 17 April 2016 pukul 07.00 wib untuk pertanggungjawaban karya. Pakaian bebas rapi.
            Bagi yang belum berkesempatan masuk dalam 10 besar, jangan berkecil hati. Tetap semangat dan teruslah berkarya. Anggap ini sebagai ajang latihan dan batu loncatan untuk menuju keberhasilan. Kami juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas partisipasinya dalam acara ini. Salam Sukses! Kami tunggu di Olimpiade Sastra Indonesia tahun depan.


Salam,
Panitia OSI V


Jumat, 01 April 2016

Naskah Puisi - Lomba Membaca Puisi

PUISI WAJIB



Negeriku
Karya : Mustofa Bisri
 
mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia
dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku
mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia
mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi






 PUISI PILIHAN
 
DOA ORANG LAPAR
Karya W.S Rendra

Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam
Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran
Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin
Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca
Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sop dan segelas kopi hitam
Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorga Mu
 (1995 )



 
SIAP SEDIA
Karya : Chairil Anwar

Kepada Angkatanku
Tanganmu nanti tegang kaku
Jantungmu nanti berdebar berhenti
Tubuhmu nanti mengeras batu
Tapi kami sederap mengganti
Terus memahat ini Tugu
Matamu nanti kaca saja
Mulutmu nanti habis bicara
Darahmu nanti mengalir berhenti
Tapi kami sederap mengganti
Terus berdaya ke Masyarakat Jaya
Suaramu nanti diam ditekan
Namamu nanti terbang hilang
Langkahmu nanti enggan ke depan
Tapi kami sederap mengganti
Bersatu maju, ke Kemenangan
Darah kami panas selama
Badan kami tertempa baja
Jiwa kami gagah perkasa
Kami akan mewarna di angkasa
Kami pembawa ke Bahgia Nyata
Kawan, kawan
Menepis segar angin terasa
Lalu menderu menyapu awan
Terus menembus surya cahaya
Memencar pencar ke penjuru segala
Riang menggelombang sawah dan hutan
Segala menyala-nyala !
Segala menyala-nyala !
Kawan, kawan
Dan kita bangkit dengan kesadaran
Mencucuk menerang hingga belulang
Kawan’ kawan
Kita mengayun pedang ke Dunia Terang.





 Dalam Doaku
Karya : Sapardi Djoko Damono

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu






IBU
Karya : Dzawawi Imron
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutihkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudra
sempit lauitan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku


1966